Alasan Mengapa Kita Perlu Rehat Sejenak dari Sosial Media
Posted in: VOZ POPULAR DEL AÑO

Alasan Mengapa Kita Perlu Rehat Sejenak dari Sosial Media

Tentang Sosial Media

Lebih dari satu dekade berlalu, sosial media menjadi sarana yang tidak pernah terpisahkan dalam kehidupan manusia. Ada yang memakainya karena kepentingan pekerjaan, menghubungkan dengan orang-orang tersayang yang jauh di sisi bumi yang lain, sampai hanya untuk mengisi waktu kegabutan saja.

Semakin bertambahnya fitur-fitur yang memanjakan penggunanya, membuat sosial media membawa berbagai dampak yang tidak begitu baik bagi beberapa orang, dampak tersebut sebetulnya bisa diatasi apabila gejala awalnya sudah terdeteksi bahwa sosial media yang mereka gunakan membawa distraksi serius. Jelas bukan salah sosial medianya, semua bergantung pada masing-masing tangan yang memanfaatkannya. Jika dirasa sosial media lebih banyk membawa dampak negatif, akan lebih baik untuk rehat sementara dari aktivitas berselancar di layar memantau banyak hal. Setidaknya ada beberapa hal baik yang bisa diambil jika istirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia sosial media, salah satunya adalah bisa mereset ulang diri sendiri dan memaknai penggunaan sosial media dengan lebih bijak lagi. Berikut adalah hal-hal yang bisa didapatkan usai rehat dari sosial media.

Sebenarnya Mengapa kita perlu rehat dari sosial media

1. Menambah Produktivitas

Ini dampak nyata yang didapatkan saat diri mulai menonaktifkan media sosial untuk sementara. Akan banyak waktu luang yang sebelumnya dihabiskan untuk scroll TikTok atau Instagram beserta membaca komentar netizen, dapat dialihkan menjadi berbagai macam kegiatan yang tentunya menambah produktivitas. Kegiatan itu bisa berupa mengerjakan tugas menjadi lebih awal tanpa harus menunggu mepet deadline pengumpulan, jalan-jalan kesana kemari bersama

Bestie, melatih berbagai softskill untuk menunjang karir dan kualitas diri, mulai membuka kembali laptop kemudian melanjutkan naskah novel atau artikel yang sudah lama tak tersentuh kelanjutannya, sampai waktu sekedar berolahraga yang sudah sekian lama ditinggalkan akibat terlalu sibuk bersosmed ria. Aktivitas tersebut jelas lebih berguna dan produktif untuk diterapkan.

2. Menghindari Ketergantungan

Tidak heran saat jari sudah meng-klik salah satu aplikasi di sosial media, butuh waktu yang cukup lama untuk kembali keluar dari aplikasi, hal tersebut karena di dalam sosial media terdapat banyak konten yang membuat candu untuk ditonton. Melihat video musik, mengikuti berita artis dan olahraga sampai perkara stalking akun gebetan, semuanya ada. Bagi orang yang sudah cukup bijak memanfaatkan sosial media hal tersebut tentu tak terlalu berpengaruh akan kehidupannya di dunia nyata, karena mereka sudah dibekali kontrol diri untuk memanfaatkan yang tersedia di sosial media dengan benar. Namun bagi mereka yang sedikit-sedikit harus buka sosmed, sebentar-sebentar harus ikut tren, akan mengakibatkan kecanduan.

Dan fase kecanduan sosmed ini tak kalah mengkhawatirkan, oleh karenanya sebelum berkelanjutan alangkah lebih baik untuk perlahan-lahan mengurangi aktivitas di sosial media, sesimpel mengurangi membuat story dan postingan yang tidak memiliki tujuan penting atau scroll konten unfaedah, jika itu dilakukan terus menerus akan membantu untuk lepas dari kecanduan sosmed.

3. Lebih Menerima Diri Sendiri

Kampanye self-love atau mencintai diri sendiri memang akhir-akhir ini kerap digencarkan. Hal tersebut karena banyaknya kaum muda yang merasakan insecure akan dirinya sendiri, meski jika diperhatikan merek tak mempunyai alasan untuk minder jika lebih bisa menerima apa yang ada dalam dirinya. Apa yang terlihat pada setiap postingan sosmed orang lain seolah si pemilik postingan hidupnya sempurna dan kita menginginkan apa yang mereka miliki, padahal tidak mesti begitu.

Tanamkan dalam diri jika apa yang dilihat di sosial media pasti sudah melalui berbagai tahapan filter sehingga yang orang-orang tampilkan adalah versi paling sempurna yang mereka bisa, meski nyatanya mereka pun tak ubahnya manusia biasa yang mempunyai banyak kekurangan. Melihat berbagai postingan orang tanpa membentengi diri untuk self-love akan rawan menuntut diri sendiri harus sempurna sesuai tuntutan yang ada pada masyarakat, utamanya di sosial media. Berhenti sejenak dari sosial media akan cukup membantu mengurangi tuntutan menjadi sempurna tersebut, kita akan lebih mendalami makna betapa berharganya diri sendiri tanpa harus mengikuti standar orang lain yang notabene baru kita lihat secara kasat mata.

4. Menghindari Overthinking

Di sosial media kita tidak bisa mengendalikan apa yang diposting oleh orang lain, jadi terkadang saat mereka membuat postingan disertai caption beberapa kalimat, kita merasa bahwa postingan tersebut adalah sindiran untuk kita, meskipun nyatanya bukan itu tujuan si pembuat postingan. Hal itu sangat rawan menjadi bahan overthinking, hati dan pikiran selalu bertanya-tanya akan salah apa kita sebelumnya pada orang itu, mengapa mereka membuat postingan seperti itu, mengapa mereka meng-unfollow, atau justifikasi bahwa tidak seharusnya mereka begini dan begitu. Sudah dapat dilihat kan, bahwa hal sekecil itu yang dilihat dari orang lain di sosial media berbuntut panjang menjadi bahan overthinking yang sangat tidak perlu. Jika sudah begitu tidak ada pilihan selain rehat sejenak dari sosial media, menjadi pribadi yang lebih memperhatikan diri sendiri sehingga saat sudah kembali bermain sosmed akan lebih bijak dalam menyikapi setiap yang dilihat dan dilakukan orang lain dengan akun mereka.

Sosial media tak ubahnya seperti pisau bermata dua, disatu sisi hadirnya mereka sangat membantu berbagai macam aspek dalam berkomunikasi dan mempercepat datangnya informasi. Banyak pekerjaan pun kini bisa diakses cukup dengan memanfaatkan sosmed, namun jika itu tidak dibarengi dengan kebijakan para penggunanya dalam memanfaatkan keberadaan sosial media, tak ubah hanya akan menjadi bumerang semata.

 

Back to Top